Jumat, 29 Maret 2013

LOVE IN NEW DELHI


 Tina, gadis ceria dari sebuah perkampungan di Bogor. Seorang gadis berketurunan Indonesia dan India. Pagi ini Tina masih bergelut dengan leptopnya, karya tulisnya masih belum rampung dia selesaikan. padahal, jam sudah berputar dan tepat berada di anggka delapan. Anggka yang seharusnya di pakai Tina untuk pergi ke kempat kerjanya.
            “Tina, mau berangkat bareng ngak?” terdengar suara dari luar kamar Tina. Ternyata yang memanggil itu kak Ali, kakak kedua Tina.
            “Iya. Tunggu bentar,” jawab Tina dari dalam kamar.
            “kalau lama kakak tinggal nih,” seru kak Ali sekali lagi.
            Tina pun bergegas menutup laptopnya dan turun ke lantai bawah. Tak lupa Tian berpamitan kepada ibunya. Kak Ali sempat bertanya ketika di jalan, mengapa jam segitu Tina masih berkutat dengan laptopnya. Tina pun memberikan jawabannya karena karya tulisnya belum dia diselesaikan dan Tina pun masih bingung untuk membahas tentang apa di karya tulis barunya itu ditambah lagi karya tulis itu akan di paparka di majalah tempat Tina bekerja satu bulan lagi. Kak Ali memberitahu Tina agar membuat karya tulis itu dari hati dan jangan terlalu berfantasi, buat sesuatu yang kebanyakan orang mengalaminya tapi dengan sudut pandang penulis itu sendiri. Tak terasa obrolan itu terhenti karena mobil yang dikendarai kak Ali sudah sampai di tempat kerja Tina. Tina pun berpamitan kepada kak Ali dan seperti biasa pula, teman-teman Tina histeris ketika melihat kak Ali.
            “Eh Tin, jam segini baru nongol, dicariin tuh sama Bu Hesti,” seru Asrti ketika Tina hendak ke meja kerjanya.
            “Emangnya ada apa?” tanya Tina dengan mimik wajah yang takut, bingung, sekaligus penasaran.
            “Tak tau aku. Mungkin mungkin masalah karya tulis kamu yang mau di publikasikan bulan depan atau mungkin bisa jadi karena kamu telat kali,” ucap Astri.
            “Jangan nakut-nakutin gitu dong,” balas Tina dengan mimik muka yang ketakutan.
            “Ihhhh siapa yang nakut nakutin? Udah gih sana, ke ruangannnya Bu Hesti aja supaya jelas,” jawab Astri dengan memberikan senyum dua jarinya kepada Tina.
            Dilangkahkan kakinya ke ruangan Bu Hesti, perasaannnya tak karuan, masa cuma sekali telat aja udah dicariin gini sih? Kalaupun tentang karya tulis kan masih satu bulan lagi, masa iya diuber-uber hari ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus jalan di kepada Tina. Benar saja, ternyata Bu Hesti menanyakan tentang karya tulis Tina yang akan dipublikasikan satu bulan mendatang. Tina menjelaskan kepada Bu Hesti jika karya tulisnya itu masih dalam proses dan Tina sedang melakukan survey tentang cerita apa yang sedang digemari anak muda zaman sekarang selain k-pop. Tetap saja Bu Hesti meminta agar karya tulis itu cepat selesai dan tak lupa tentunya Bu Hesti menegur Tina agar lain waktu dia tak datang terlambat lagi.
            “Diapain tadi diruangan Bu Hesti?” tanya Astri.
            “Biasa karena masalah telat dan Mba Hesti minta aku untuk selesaikan segera karya tulisku,” jawab Tina dengan eskpresi yang kurang menyenangkan.
            “Biasanya kan kamu kalau buat karya tulis dua hari aja jadi, kepada sekarang kayanya susah banget, sampai-sampai menggela nafas gitu,” seru Astri.
            “Iya sih Tri, tapi entah mengapa aku itu ingin sekali karya tulis aku ini dapat perhatian lebih dari para pembaca karena yang udah-udah responnnya Cuma itu-itu aja, pengen buat yang baru dan berbeda tapi tetep sama ciri khas  tulisanku yang berbau kasih sayang,”
            “Yasudah terserah kamu, tapi kalau buntuh bantuan, aku siap bantu ko. Jadi ke Delhi?” tanya Astri.
            “Delhi? Ohh, jika tak ada halangan insyaallah jadi lagi pula akupun sudah minta izin sama Mba Hesti dan diperbolehkan asalkan pas balik dari sana karya tulisku juga udah rampung, ” jawab Tina.
            “emangnnya mau berapa hari di sana?”
            “hhhhmmm kira-kira empat belas hari,”
            “aaaaaa...... iri aku, tapi ko lama banget sih?”
            “tenang aja nanti aku dapetin kain sari, gelang, manisan dan asinan india deh. Iya nih sekalian mudik, kan aku ngak pernah ke india jadi jenguk nenek iya, liburan juga iya,”
            “ngak usah bawa apa-apa buat aku, cukup Imran khan aja yang kamu bawa, terus anter deh ke rumahku hehehe...”
            “hah?? Imran khan??? Ragu aku kalau itu hehehe...”
            Selepas senda gurau itu, mereka pergi ke luar untuk makan siang. Langkah kaki tina terhenti sejenak memikirkan tentang kepergiannnya ke Delhi. Sanggupkah dia berada dalam negara yang mempunyai kebiasaan dan adat yang berbeda, mampukan dia menyesuaikan diri disana dan merampungkan tugas-tugasnya di negara orang. Pikiran itu terus mengusik hati Tina. Astri yang se-dari tadi memperhatikan Tina, menepuk pundak Tina berusaha meyakinkan Tina dengan senyum manis dari wajah Astri dan senyuman itu dibalas senyuman pula walau senyuman itu bukanlah senyuman keikhlasan. Di ruang kerjanya pun Tina masih saja melamun, melamunkan hal yang sama seperti tadi siang. Layar Laptopnya masih bersih, belum ada coretan ataupun tulisan. Lagi-lagi Astri menepuk pundak kawannnya itu seraya menunjuk peta Delhi yang ada di meja kerjanya dan memperdendangkan lagu khas dari suatu negara di Asia Selatan itu. Kali ini tindakan Astri membuat Tina tertawa dan ikut bersenandung pula.
“Tina, jangan sedih gitu dong kan ke Delhi nya untuk jenguk nenek plus tugas.”
“iya sih tri tapi aku pasti kangen deh sama kamu, dan sama negara ku yang tercinta ini,” (memeluk Astri)
“sudah-sudah kan kita bisa wabcame man, chatting, online di facebook atau balas-balasan di twitter, sekarang ini udah maju jamannya jadi ngak usah takut kangen sama aku, ya aku nyadar sih emang banyak yang ngefans gitu sama aku,”
“huhh, besok akan terpisah selama 14 hari sama Astri rasanya itu kaya terbang sampai ke langit ke tujuh terus melayang bebas ke bumi,”
“ngak usah lebay deh, udah di jemput tuh sama kakakmu, titip salam untuk kakakmu yah,”
“iya Astriku sayang, salammu akan aku sampaikan kepada kakakku,” (memeluk Astri)
Langkah kaki Tina berlari seirama dengan rintikan air hujan yang mulai membasahi kota Bogor malam ini. Dibukanya pintu mobil itu, disapanya laki-laki yang ada di dalam mobil itu tak lupa pula menyampaikan salam Astri kepada laki-laki itu namun laki-laki itu hanya diam tak memberi respon. Laki-laki itu melihat wajah adeknya yang musam, yang sedang gundah gulana hinggga mendorongnya untuk bertanya kepada adiknya ada apa gerangan sehingga wajahnya muram begitu. Setali tiga uang, Tina menjawab dengan jawaban yang sama, jawaban yang ia berikan kepada Astri. Laki-laki itu mengkerutkan dahinya dan bertanya pada hatinya, ketika pagi datang wajah adiknya begitu senang mendengar kabar akan pergi ke Delhi namun seiring tenggelammnya matahari dari pelupuk mata, kegembiraan itupun sirna juga tapi mungkin itu hanya awal, ya awal ketika akan menuju ke suatu tempat yang asing untuk kita, mungkin perasaan yang sama seperti waktu pertama kali laki-laki itu di aja ke Delhi oleh sang nenek.
Setibanya di rumah, ternyata ayah sudah sampai di rumah. Kegembiran lagi-lagi terpancar dari wajah Tina, wajar saja karena selama beberapa tahun belakangan Ayahnya tinggal di Delhi merawat neneknya dan usahanya di Delhi. Dilemparnya tas kerja miliknya ke atas sofa dan berlari menuju ayah yang sedang minum teh lalu di peluknya sang ayah. Di sudut sana , Ali hanya tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah sang adik. Ibu yang baru saja selesai melaksanakan sholat isya menuju ke tempat kegaduhan itu, ditepuknya bahu Ali, Ali terperanjat dari lamunannya. Ali sudah tau apa maksud ibu tadi maka dari itu, Ali pun bergegas ke kamarnya dan melaksanakan sholat isya. Di lain tempat Tina masih asyik bercengkrama dengan san ayah, Tina pun sempat bertanya apakah benar jika besok ia sekeluarga akan ke Delhi? Bagaimana kondisi Delhi?  Jauhkan perbedaan Delhi dengan Indonesia? Semua pertanyaan ditanyakan Tina namun ayah hanya menjawab agar Tina saja yang menilai. Ayah juga menyuruh Tina agar lekas sholat isya dulu lalu menyiapkan barang-barang yang akan di bawa dan beristirahat agar besok tidak kelelahan.
Fajarpun menyingsing, mentari mulai menampakan sinarnya  untuk seluruh makhluk. Kegundahan masih menyelimuti hati Tina, namun tak mungkin jika Tina tak ikut karena sang nenek amat sangat ingin bertemu dengan Tina, apalagi dia satu-satunya cucu perempuan di keluarganya. Kak Ali yang masih melihat kegundahan itu berusaha menebar senyum ikhlas kepada Tina, namun dibalas oleh Tina senyum kegundahan. Kegundahan itu masih terlihat di wajah Tina semalam perjalan bahkan ketika berada di dalam pesawat sekalipun, maka kak Ali pun bersua.
“dulu juga kakak pernah gundah kaya gitu, rasanya itu aneh, meninggalkan negara sendiri lantas mengunjungi negara lain yang kita sendiri belum tau, tapi rasa itu sirna setelah sampai Delhi, disana seru, asyik walaupun ada kesulitan bahasa tapi adapula kemiripan bahasa, udah tenang aja nanti sampai delhi kamu kakak ajak jalan-jalan, mencicipi asinan dan manisan disana, makan roti cane dan makan lainnya, dijamin dalam dua minggu berat badan akan naik hehehe...”
“ihhhh kak Ali ngeledek aja nih, kalu berat badanku naik  nanti aku ngak bisa balik ke Indonesia lagi dong?”
“loh kok gitu?”
“iya kan nanti pesawatnya kelebihan beban hehehe”
Selama dalam perjalannya tak ada yang menyenangkan, karena yang terlihat hanya awan putih, orang-orang yang sedang terlelap dalam tidurnya, pemandangan yang biasa terlihat. Tak terasa, rasa kantuk menerang Tina secara perlahan kantung matanya menutup secara otomatis, bukan hanya kantung matanya yang menutup otomatis tapi kepalanya pun bergerak otomatis, ya bergerak ke bawah ke pundah kak Ali. Kak Ali yang sedang membaca koran sedikit kaget ketika bahunya itu dijadikan sandaran tidur adiknya tapi hal itu membuat Kak Ali hanya tersenyum sambil berharapa agar adiknya tidah gundah lagi jika sudah sampai di Delhi nanti. Perjalanan ini cukup melelahkan juga, kak Ali pun tanpa sadar tertidur pula. Ketika kak Ali tertidur, Tina terbangun, wajah lesu dan malas bersarang di wajah Tina, Tina pun pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Sebentar lagi bandara akan mendarat di bandara di Delhi, Tina berusaha membangunkan Kak Ali, kali ini Tina amat bersemangat sekali, wajah muran durja nya tak lagi tampak, hanya kegembiraan dan keriangan yang tampak, kak Ali yang melihat hal itu tersenyum penuh kelegaan akhirnya adiknya kini sudah tak bermuran durja lagi dan mudah-mudahan Tina akan betah di Delhi.

New Delhi
Kaki anak nusantara ini kini telah berpijak di negeri hindustan, negeri yang dulu senasip dengan nusantara, negara yang pernah dijajah dan sama-sama memperoleh kemerdekaan dengan perjuangan dan pengorbanan. Kaki anak nusantara ini baru berpijak untuk pertama kalinya, wajah lesu dan kelelahan nampak sekali dari raut wajahnya, ditambah lagi mereka sampai di tanah hindustan ketika matahari telah tergelincir dan hilang dari pelupuk mata. Sebuah mobil jembutan menghampiri mereka di bandara, semua lekas naik dan menghilang dari bandara. Mobil itu melaju di tengah keheningan malam kota hindustan. Tak terasa mobil itu berhenti di suatu pekarangan rumah yang luas dan rumah yang telah dihias oleh ornamen khan negeri hindustan ini. Lelah dan kantuk menyerang Tina, ingin rasanya langsung merebahkan badan di kamar, namun langkah itu terhenti ketika ada suara yang memanggil nama Tina. Suara itu adalah suara nenek Tina, segera dipeluknya sang cucuk, dibawakannya manisan khas india yang dibuat dengan cinta oleh sang nenek. Tahu benar kondisi sang cucuk yang lelah, nenek melepaskan pelukannya dan suapannya lalu mengantar sang cucuk ke kamarnya. Kamar yang sudah disiapkan dari jauh hari, segera saja Tina langsung merebahkan badannya di kamar barunya itu. Ditempat yang berbeda ayah dan ibu melepas lelah dengan duduk di teras depan rumah, pemandangan malam yang romantis. Kak Ali sendiri bergegas ke kamarnya dan membersihkan badannya lalu benjatuhkan badannya di kasur dan terlelap.
Sang surya telah menampakan wajahnya menandakan pagi datang, Tina yang semalam tidur dengan pulas di kamar barunya bergegas turun ke meja makan. Dilangkahkan kakinya menuruni anak tangga, dengan sesekali melihat dekorasi di sekeklilingnya. Rasa takjub menghampiri hati Tina, sungguh dekorasi yang hanya Tina lihat di film-film india kini bisa Tina lihat dan rasakan secara langsung. Dimeja makan telah ada nenek, ayah, ibu, paman, kak Ali dan yang lainnya. Dimeja itu telah tersedia makanan tapi bukanlah makanan yang biasa Tina lihat dan makan tapi dimeja itu penuh dengan makanan khas india termasuk roti cane.
Hari ini kak Ali berniat mengajak Tina untuk berkeliling Delhi, yang paling utama adalah mengajak Tina ke gerbang india. Namun sebelum mangajak Tina pergi berkeliling Delhi, kak Ali bertanya tentang tugas kantornya apakah perlu dibantu atau tidak. Tina menjawab biarlah tugas itu ia rampungkan sendiri. Mobil melaju, membawa Tina dan kak Ali ke jantung ibukota negara india. Pemandangan yang cukup membuat Tina tersenyum lebar karena bisa melihat apa yang selama ini hanya bisa dilihat di film-film india saja. Disepanjang perjalanan kak Ali bercerita pengalaman pertamanya ketika pergi ke kerbang india, digerbang itu dia bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi sahabatnya. Walau berbeda negara tapi tak membuat persahabatan mereka berhenti begitu saja. Sesekali sahabatnya itu berkumjung ke indonesia atapun chatting, bahkan pernah juga berkiriman surat.  Sungguh kisah persahabatan yang indah. Kak Ali pun berniat memeprkenalkan Tina dengan sahabatnya itu di gerbang India.
Mobil pun telah terparkir, ana-anak nusantara ini melangkanhkan kakinya menuju gerbang yang bersejarah di india. Disana telah menunggu seorang pemuda india yang tak lain adalah sahabat kak Ali. Ketika pertemuan dua sahabat ini terjadi, Tina terdiam. Kak Ali pun memperkenalkan sahabatnya ini kepada Tina.
“saya Rakhes,” sebut pemuda itu dengan  senyum manis dari wajahnya.
“saya Tina,” jawab Tina sembari lemempar senyuman pula.
“baru pertama kali atau sudah sering ke sini?” ucap Rakhes memulai pembicaraan.
“dia baru sekali ini ke sini, awal kesini saja dia sudah gundah,” celetuk kak Ali.
“kak Ali nyamber-nyamber aja nih kaya tiang listrik,”
“tak usah galau, insya allah nanti saya yang akan memperkenalkan india kepada kamu,”
“terimakasih,”
Tiga pemuda beda negara ini pun berkeliling di gerbang india, Rakhes dan kak Ali begitu asyik mengobrol sepanjang perjalanan, hal itu membuat Tina kesal dan cemberut. Mereka begitu asyik berbagi cerita dan pengalaman sampai-sampai Tina berhenti pun, kedua sahabat ini terus berjalan yang akhirnya Tina yang mengejar kedua sahabat ini. Mereka berhenti disebuah taman, Kak Ali berpamitan untuk membeli es cream, awalnya Tina ingin ikut karena tak enak jika ditingggal dengan orang asing yang baru saja dia kenal namun kak Ali melarangnya. Dengan wajah terpaksa Tina akhirnya ditinggal berdua dengan Rakhes.
Ada hal yang menarik rupanya, ketika Tina duduk dibangku taman, Rakhes pun duduk di bangku taman itu tapi duduknya di sebrang bangku itu. Bangku taman itu mempunyai dua sisi. Jadi Tina dan Rakhes duduk berlotolak punggung. Hal itu membuat Tina kaget dan sedikit bingung, ingin rasanya tina bertanaya namun malu rasanya. Jadi mereka duduk tapi tak berhadap=hadapan ataupun samping-sampingan tapi bertolak punggung.
“maaf, jika aku duduk bertolak punggung denganmu seperti ini, aku tak biasa duduk sampingan ataupun hadap-hadapan dengan wanita, apalagi wanita itu bukan muhromku. Aku tak mau seperti itu, aku hanya ingin menjaga martabat wanita,”
“iya tak apa, aku pun tau dan akupun pasti akan merasa risih jika seseorang yang bukan muhrimku duduk berdekatan apalagi sampai bertatap-tatapan,”
“tadi kata Ali, kamu itu bekerja di salah-satu majalah di indonesia?”
“iya, memangnya kenapa?”
“tak ada apa-apa, hanya ingin memastikan hehehe...”
“kamu sendiri sekarang kuliah atau sudah bekerja?”
“kebetulan sekarang aku sudah bekerja. Apakah kamu suka anak-anak?”
“iya aku suka, mereka itu lucu, polos dan menyenangkan ketika bisa bersama dengan anak-anak,”
“kau datang dari negara yang cukup jauh, bisakah kau ceritakan negaramu kepadaku?”
“oh tentu, negara itu dulu punya julukan jambrut katulistiwa, presiden pertaman negaraku adalah Ir Soekarno, seorang anak bangsa yang tanggguh dan siapapun yang mendengar pidato-pidatonya pasti akan tergugah. Beliau juga termasuk tokoh yang aku idolakan, karena semangatnya beliau dan kerja kelasnya beliau, mungkin jika tak ada bung karno dan teman-teman seperjuangannnya mungkin saja sekarang negara belum merdeka. Ingin rasanya bisa seperti beliau. Oya lantas bagaimana dengan negaramu?”
“seperti yang dunia tau perfilman di negarku ini cukup pesat bahkan beberapa aktor dan aktris disini pun sudah ada yang berakhting untuk film-film hollywood. Melalui film-film itulah negraku mempromosikan india, tempat wisatanya, tariannnya, kain sarinya, perayaannya, makanannya dan lain halnya. Contohnya gerbang india ini, banyak film-film india yang menganbil tempat di sini seperti film fanna, mann dan banyak film-film lainnya. Apakah kau suka menonton film-film kami? Bagaiman dengan perfilman di negarmu?”
“ya lumayan sukalah untuk beberapa film yang di perankan oleh aktor kesukaannku ataupun film-film yang mengundang air mata. Perfilman di negaraku pun cukup pesat dari yang bertema tentang persahabatan, agama, percintaan dan lainnya, walau tak jarang perfilman di negaraku pun sering didominasi film horor comedi tapi kebanyakan film-film itu kurang dinati.”
“bisa beritahu aku apasaja nama film yang menjadi pembicaraan di negaramu dan tentunya laku keras?”
“tentu saja, laskar pelangi, ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, habibie & ainun, dan aku lupa lagi hehehe...”
“bisa sebutkan lagi atau tulis di secarik kertas?”
“aku tak membawa kertas.”
Obrolan mereka terhenti sejenak, seketika itu Rakhes pergi, entah kemana dan untuk apa. Suara  Rakhes tak terdengar lagi di belakang punggung Tina, ketika Tina menoleh  ternyata Rakhes tak ada . Beberasa menit kemudia Rakhes kembali, memberika secarik daun kering dan meminta Tina untuk menuliskan nama-mana film Indonesia yang tadi dia sebutkan, Tina tersenyum geli, mengapa yang dicari daun kering, mengapa bukan secarik kertas saja yang dibawa. Lagi-lagi Rakhes menbuat Tina mengkerutkan dahinya.
Kak Ali pun datang dengan membawa tiga mangkuk es cream, sempat pula kak li mengkerutkan dahinya karena posisi duduk adik dan sahabatnya yang tak lazim. Ketika ingin memberika es cream itu kepada Rakhes, kak Ali memberikan isyarat mengenai cara duduk Rakhes dan Tina, Rakhes pun menjawab inyarat itu dengan menunjuk Tina dan dirinya lalu melambaikan tangan, isyarat tidak. Ali hanya tersenyum setelah mengetahui jawaban yang diberikan Rakhes melalui isyarat itu. Mereka pun meninggalkan taman itu dan berkeliling sekitaran gerbang india.
Di perjalanan Rakhes mencoba untuk menjelaskan sejrah tentang gerbang india ini,  cukup dibuat kagum Tina oleh daya rekam  rakesh terkadap sejarah. Jawaban rakesh cukup sederhana ketika ditanya mengapa dia begitu fasih menjelaskan seluk beluk tentang gerbang india padahal dia bukanlah seorang pemandu. Munurut rakesh bukan hanya pemandu saja yang harus tau banyak tentang sejarah india namun seharusnya para pemuda bangsanya juga. Sejarah itu pasti dan kita tidak boleh melupakan sejarah.
Negara ini tidak mungkin ada tanpa sejarah, kita hanya sebagi penerus yang bertanggung jawab menjaga negara ini. Aku hanya warga negara india yang hanya mampu mengabdi untuk bangsa ini melalui sejarah. Sejarah negara kami yang kemudia kami beritahukan kepada dunia betapa heroiknya kami. Jika mengaku anak bangsa maka janganlah lupakan sejarah.
Sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Rakesh. Sepenggal kalimat yang membawa susana lain dalam hati Tina, terbayang oleh Tina betapa dulu dia sangat membenci pelajaran sejarah dan selalu bertanya mengapa ada sejarah? Kini pertanyaan itu terjawab, kini Tina hanya ingin menangis dan meminta maaf kepada gurunya dulu karena telah menyepelelakan pelajaran sejarah.

BERSAMBUNG.....

Rabu, 30 Januari 2013

Jodhaa Akbar


Tinjauan


http://multiply.com/mu/paulinaleibo/image/13/photos/upload/300x300/R-CzKwoKCCIAACQS3@Y1/jodha-akbar.jpg?et=aeLTzhelunykdKc5QujNyA&nmid=88887691
Kategori:
Film
Jenis
Romansa
Satu lagi film Bollywood yang patut ditonton bagi siapa yang tertarik dengan
hubungan antar iman atau keyakinan.Sudah lama film ini aku tonton bersama-sama teman akc jogja tapi baru sekarang sempat mengulasnya.

Film yang dimainkan oleh Hrithik Roshan sebagai Emperor Jalaluddin Mohammad Akbar dan Aishwaria Rai Bachchan sebagai Jodhaa. Karya yang brilian ini disutradarai oleh dari Ashutosh Gowariker..konon ini merupakan film kolosal terbesar yang pernah dibuat india.

Bercerita tentang sejarah kisah cinta Jodha dan Akbar, yang konon juga merupakan kisah nyata dan ada cerita katanya sang ayah jalaluddin Mohammad akbar adalah raja india yang mendirikan istana Taj Mahal bagi istrinya. Awal-awalnya memang lebih banyak perang serta cerita politik tersaji tapi memang itu latar belakang cerita ini, dan kenapa terjadi pernikahan 2 agama yang pada dasarnya tidak didasari pacaran dulu kayak jaman sekarang gitu tetapi karena politik mereka di haruskan menikah agar terjadi harmonisasi di kedua negara ini dan negara sekitarnya.Jalaluddin Mohammad Akbar adalah seseorang yang berlatar belakang muslim yang taat dan Jodha lahir serta besar di Keluarga Hindu yang taat juga..sekedar flash back aja india dari dulu mempunyai 2 agama terbesar yaitu Hindu dan Islam, kedua agama ini saling berseteru hingga terjadi perpindahan besar-besaran warga india beragama islam keluar hingga lahirlah pakistan.

Dalam Film ini kita akan melihat bahwa setiap agama ternyata mempunyai keindahannya sendiri-sendiri. Islam yang selama ini oleh Dunia barat dipandang sebagai agama kekerasan sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di film ini, dimana ada salah satu adegan yang bercerita pada saat malam pertama Jodha dan Jalaludin, hubungan yang didasarkan perjodohan politik ternyata membawa perasaan kesal hingga Jodha tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai istri sampai hatinya benar-benar bisa terima akan kehadiran Jalaludin, dan jalaludin pun berucap dalam islam tidak pernah terjadi pemaksaan kehendak...bagi para wanita yang nonton adegan ini so sweetlah...Dan adegan lainnya very touching saat istrinya menyanyikan Bhajan atau puji-pujian serta sesembahan di altar sembahyang, umat hindu mempunyai cara tersendiri untuk membuktikan kecintaannya pada Tuhan yaitu dengan bernyanyi lagu-lagu pujian, betapa takjubnya Jalaludin saat mendengar lagu puji-pujian serta cara bersembahyang Jodha, begitu juga saat Jodha melihat cara bersembahyang Jalaludin.
Dan Alhasil hubungan yang bermula hanya karena alasan politik berubah menjadi perasaaan sayang yg sesungguhnya, Akbar benar-benar jatuh cinta pada Jodha, seorang wanita yg berpikiran tidak perlu merasa takut terhadap kekuasaan suaminya.

Kesimpulanku bahwa Ternyata setiap agama itu mempunyai keindahannya sendiri-sendiri kalau kita bisa merasakan dan melihat, dengan begitu pada akhirnya kita bisa saling melengkapi dan belajar saling mengapresiasi

Wah, Ilmuwan Jepang Terkagum-kagum pada Riau, Mengapa?


REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU---Ilmuwan dari Jepang dalam melakukan penelitian emisi karbon memuji besarnya potensi lahan gambut di Semenanjung Kampar Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, sebagai yang terluas dan salah satu yang terdalam di dunia.
"Kesan saya terhadap gambut di Riau, sangat bagus karena luas dan mempunyai kedalaman untuk menyimpan karbon," kata Prof Toshihide Nagano dari Universitas Utsunomiya.

Nagano bersama sejumlah ilmuwan Jepang lainnya melakukan riset terhadap pelepasan karbon di lahan gambut yang dikelola untuk hutan tanaman industri di konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Semenanjung Kampar. Penelitian itu rencananya berlangsung selama tiga tahun, sejak Juli 2012.

Menurut dia, kondisi gambut di Semenanjung Kampar sangat bagus untuk penelitian, bahkan lebih bagus dari yang ada di Thailand, dimana mereka pernah melakukan penelitian.
"Gambut di Thailand lebih sempit, jadi saya sangat berharap besar dari penelitian di Riau," kata Nagano.

Karena itu, para ilmuwan itu tidak tanggung-tanggung menginvestasikan alat pengukur karbon senilai Rp1 miliar untuk riset di Semenanjung Kampar. Alat itu bisa mengukur pelepasan CO2, kelembaban, ketinggian air dan suhu di lahan gambut secara periodik tiap satu jam.

Dari data itu, lanjutnya, bisa menunjukan kondisi ketinggian air gambut di lokasi HTI saat musim kemarau dan penghujan yang memperlihatkan berapa besar pelepasan karbon dalam kondisi yang berbeda.
"Saya berharap hasil riset ini bisa bermanfaat, khusus untuk perusahaan atau kalangan bisnis, semoga bisa digunakan untuk menyeimbangkan aspek pengelolaan lingkungan tetap dijaga dan peningkatan produksi," katanya.

Ketua Tim MRV (measurement, reporting and verification) Kementerian Kehutanan Prof Budi Indra Setiawan menyambut baik penelitian ilmuwan Jepang itu karena bisa bermanfaat untuk memastikan penghitungan emisi karbon di lahan gambut.

Ia mengatakan, penelitian itu menunjukan betapa besar kepentingan Jepang terhadap perkembangan industri kehutanan dan kertas Indonesia.
"Itu bisa dipahami karena Jepang sangat membutuhkan bahan baku dari kita untuk memenuhi tingginya permintaan kertas di sana. Kebudayaan Jepang tidak bisa lepas dari kertas, seperti dari tradisi origami hingga dari tingginya minat baca di sana," ujarnya.

Ia menilai, riset tersebut akan sangat membawa keuntungan dari kedua pihak dimasa depan.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin mengatakan, membuka akses seluas-luasnya bagi semua pihak yang ingin melakukan penelitian mengenai tata kelola lahan gambut di area konsesinya.

Ia berharap, hasil riset itu bisa menjadi pembelajaran untuk perusahaan dalam meningkatkan aspek tata kelola lingkungan dalam hutan tanaman industri.
"Kalau hasilnya kurang bagus pun, kami akan terima dan akan digunakan untuk perbaikan kami," ujarnya.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: antara

Senin, 31 Desember 2012

Mahkota Untuk Ummi


Membahagiakan orang tua pastilah keinginan setiap anak. Itulah keinginan Satrio saat ini yaitu ingin memberikan mahkota yang paling indah untuk  sang ibu disurga nanti. Keinginnanya itu bermula ketika Satrio datang dalam acara seminar dan di tengah-tengah seminar, sang moderator menyebutkan bahwa jika kita menjadi penghafal al qur’an maka kita akan memberikan mahkota yang paling indah untuk ibu kita. Sepulang dari seminar itu, Satrio langsung memeluk bundanya dan mengutarakan niatnya untuk menjadi penghafal al qur’an dan ingin ke pesantren.Walau saat ini Satrio masih duduk di bangku kelas 6 SD, tapi keinginan dan niatnya amatlah besar.
            “bunda, aku boleh ngak masuk ke pesantren?”
            “ loh ko anak bunda tiba-tiba bertanya seperti itu?”
            “ gini loh bunda, kemaren waktu Satrio ikut seminar, yang bawain seminarnya itu bilang kalau kita jadi penghafal al qur’an maka kita bisa kasih mahkota untuk bunda kita.”
            “ memangnya harus di pesantren? Dirumahkan bisa, apalagi jika kamu menerapkan sistem pesantren di rumah pasti sama ko kaya yang di pesantren.”
            “ tapi beda bunda. Masa kak Ikhsan boleh kepesantren tapi Satrio ngak boleh?”
            “ boleh ko, tapi nanti jika kak Ikhsan sudah datang kesini dan kamu juga harus minta pendapat abi. Kalau nanti abi ngak ngijinin sepertinya bunda juga tak mengijinkan.”
            “aaaaaaa bunda mah gitu.”
            “ minta izin dulu sama abi, keputusannya nanti deh.”
            “makasih bunda, (sambil mencium kening bundanya)”
Senyum riang terpancar dari wajah Satrio dan tak henti-hentinya Satrio menceritakan kepada teman-temannya bahwa Satrio akan ke pesantren. Respon teman-teman Satrio berfariasi ada yang ikut senang dan merasa iri karena tak bisa ke pesantren ada juga yang mencoba menakut-nakuti Satrio dengan mengatakan bahwa di pesantren itu ngak enak, ngak bisa main dengan leluasa, jarang ketemu orang tua, peraturannya ketat, disana cuma tadarusan dan dengerin ceramah aja dan banyak celoteh lainnya. Namun Satrio mengacuhkannya.
            “masa bodo, Satrio ke pesantrenkan emang mau jadi tahfidz (penghafal al qur’an) biar bisa ngasih mahkota paling indah buat ibu Satrio,” ketus Satrio kesal.
            “ngapain juga ke pesantren? Enakan juga di sekolah biasa. Nanti kan waktu kita SMP atau SMA ada ekskul yang namanya rohis dan kita bisa memperdalam agama disitu,” balas Tito.
            “beda tau to, kata mamas aku, dipesantren itu lebih intensif apalagi didukung sama suasananya yang islami banget,” jawab Satrio.
            “terserah kamu aja deh, yang penting kalau udah jadi tahfidz beneran, ajarin Tito juga yah buat ngafalin al qu’an? Pinta Tito.
“sip deh, nanti aku jadi murabbi kamu, hehehe...” jawab Satrio dengan senyum kecil.
“murabbi itu apa?” tanya Tito dengan kebingungan.
“entahlah, kak Ikhsan sering bilang gitu sama Satrio, waktu Satrio jenguk kak Ikhsan di pesantrennya. ‘Kalau Satrio mau belajar agama biar kak Ikhsan yang jadi murabbi kamu’ gitu kata kak Ikhsan ke Satrio,” jawab satrio dengan polosnya.
Menjadi seorang Tahfidz, itulah cita-cita Satrio sekarang. Maka ketika mengisi biodata tentang cita-cita, Satrio selalu mencantumkan ‘Tahfidz Al Qur’an’. Hingga suatu ketika walikelas Satrio merasa bingung, kenapa cita-cita Satrio sukar di dengar oleh orang-orang? Biasanya anak –anak selalu menulis cita-citanya adalah dokter, guru, perawat, pilot dan lain sebagainya tapi kenapa Satrio lain? Walikelas pun memanggil Satrio berkenaan tentang cita-citanya itu karena walikelas cukup bingung dan penasaran juga mengapa Satrio ingin menjadi seorang Tahfidz Al Qur’an.
“Satrio, kesini nak, ada yang ingin ibu tanyakan kepadamu,” panggil walikelas.
“ada apa bu? Satrio ngelakuin kesalahan apa bu?” tanya Satrio dengan cemas.
“ibu mau tanya, kenapa kamu punya cita-cita ingin menjadi seorang Tahfidz al Qur’an? Kenapa ngak cita-cita yang lain?” tanya walikelas dengan penuh rasa tanya.
“menjadi seorang Tahfidz itu sebuah kebanggan bu, selain encer di Al Qur’an kita juga bisa encer di ilmu pengetahuan. Kita juga bisa ngasih mahkota yang paling indah untuk ibu kita disurga kelak. Mahkota yang manusia itu ngak punya dan mahkota itu lebih indah daripada mahkota yang dimiliki oleh ratu Inggris sekalipun. Satrio juga ingin bentengi diri Satrio agar tidak salah dalam pergaulan dan ingin menjadi umatnya rasulullah yang dekat dengan beliau karena mengahafal Al Qur’an. Oya bu Satrio keperpustaan dulu yah. Apa ada yang mau ibu tanyain lagi sama Satrio?”
“tidak nak, sudah cukup,” jawab wali kelas dengan penuh senyum.
                                                ***
           
            “umi... gimana besok jadi nengokin kak Ikhsan ngak?” tanya Satrio.
            “insyaallah jadi tapi abi mu tidak bisa ikut,” jawab  umi.
            “yah... kok gitu sih mi? Ngak seru dong?” ucap Satrio dengan nada kecewa.
            “sampe segitunya ade, abi ngak bisa ikut karena besok abi ada pertemuan sama paman kamu di Bogor, jadi besok kamu sama umi aja yah yang nengok mamas kamu,” uacap abi.
            “ahhh... abi mah gitu,” ucap Satrio dengan nada kecewa.
            “loh jangan kecewa gitu dong, kan kalau abi ngak ikut berarti kamu yang jagain ummi gantiin posisi abi. Bukannya itu yang selalu kamu bilang sama abi?” ucap abi sambil memegang pundak Satrio.
            “iya deh..” jawab Satrio dengan lesu.
            “jangan lesu gitu dong anak abi, tak sedap dipandang tahu,” celoteh abi, berusaha menghibur  Satrio.
            “(Satrio hanya tersenyum kecil dibarengi dengan senyum dari abi dan umi)”
            Sinar mentari pagi ini membawa kebahagian untuk hati Satrio karena mentari pagi ini tak terlihat ingin mengeluarkan airmatanya. Senyum semringah terpancar dari wajah Satrio. Perjalan untuk ke pesantren kak Ikhsan lumayan juga karena pesantren itu terletak di daerah Bandung tapi masuk ke desa, sehingga suasananya sangat asri dan hati ataupun pikiran akan merasakan kenyamanan. Butuh waktu dua setengah jam untuk sampai di desa itu tapi kita harus menempuh jalan tanah kira-kira tigapuluh menit untuk benar-benar sampai di pesantren itu. Setibanya di sana, Satrio langsung memeluk kakaknya.
            “assalamualaikum kakak Ikhsan? Adik dan ibumu datang nih? Tapi ayah tak ikut,” sapa Satrio dengan penuh kegembiraan.
            “waalaikumsalam adikku sayang, umi...” Ikhsan pun memberi salam kepada umi dan membawakan tas yang dibawa oleh umi.
            “ko abi ngak ikut mi?” tanya Ikhsan.
            “abi mu ada acara sama paman kamu, jadi abimu tak bisa ikut,”
            “iya mas, tadi itu aku loh yang jagain ummi, beneran deh,” celetuk Satrio.
            “wah... adik mamas hebat yah, oya kamu jadi masuk pesantren? Mau mondok diman? Disini aja biar nanti mamas bisa ngawasin dan jagain kamu,” ucap kak Ikhsan
            “jadi dong... kan mau jadi seorang tahfidz yang tangguh, males ah kejauhan, pegal nih kaki Satrio mas, hehehe... mukanya biasa dong mas, jangan nakut-nakutin gitu, Cuma bercanda ko lagian Satrio juga betah disini malahan kalau sekarang disuruh nginep siap deh lahir batin,” jawab Satrio
            “oya mi, si ade ke pesantrennya kapan?” tanya kak Ikhsan
            “kalau umi sih maunya pas dia SMP, abisnya ummi liat tekadnya udah bulat banget, lebih muda diasahnya itu kan lebih baik kaya mengukir diatas batu tapi keputusan masih tergantung kepada abimu. Abimu tuh, yang masih berat banget ngelepas Satrio buat mondok,” jawab ummi.
            “oh gitu yah, kalau aku sih berharapnya segera jadi ada temennya, hehehe...” ucap kak Ikhsan
            “mamas... itu yang dibawah pohon siapa? Lagi ngapain?” tanya Satrio.
            “itu kak Faisal, dia lagi ngafalin Al Qur’an. Calon penghafal Al Qur’an tuh udah 29 juzn yang dia hafal sekarang dia sedang menghafal juz yang ke 30,” jawab Satrio.
            “hafalannya mamas udah nyampe mana?” tanya Satrio
“ alhamdulillah sudah juz yang ke 10,” jawab kak Ikhsan
“wah... mamas hebat yah, Umi... aku mau seperti mamas dan kak Faisal, umi bilangin ke abi dong kalau Satrio pengen buru-buru dipondokin pengen cepet-cepet jadi seorang Tahfidz. Satrio juga malu sama anak-anak palestina yang udah jadi Tahfidz dibawah umur 10 tahun, sedangkan Satrio yang umurnya 10 tahun aja satu juz pun belum hafal” pinta Satrio.
Seketika ruangan itu sunyi, ummi dan kak Ikhsan meneteskan airmata atas ucapan Satrio tadi. Tak disangka anak sekecil itu punya impian yang begitu hebat, impian yang mungkin diremehkan atau dikebelakangkan oleh oang-orang masa kini.
“Satrio tau dari mana kalau diusia semuda itu anak- anak Palestina sudah menjadi seorang Tahfidz?” tanya ummi
“tu... dimejanya mamas, satrio iri tau mi, pokonya nanti waktu pulang Satrio mau bilang itu sama abi supaya abi cepet-cepet masukin Satrio ke pesantren,” jawab Satrio
“sini Satrio, mamas mau peluk kamu,” kak Ikhsan memeluk Satrio sampil meneteskan air mata
“yah, mas waktunya Satrio sama bunda pulang, kita pulang dulu yah mas, oya jangan lupa salam aku buat kak Faisal, jangan sampe lupa loh, dadah mamas,” pamit Satrio
“iya adikku sayang, salammu pasti akan mamas sampaikan, kamu juga harus jagain ummi yah, jangan buat ummi nangis lagi ok?” ucap kak Ikhsan
“sip mas, lagian tadi juga aku ngak tau kenapa ummi bisa nangis gitu, ok mas aku ngak akan buat ummi nangis lagi, tak akan ku biarkan airmata ummi mengalir akan aku buat ummi selalu tersenyum, tunngu aku ya mas, sebentar lagi aku akan menyusul mamas untuk menimba ilmu bersama disini. Assalamualaikum mamas,” ucap Satrio
“waalaikumsalam adikku sayang dan ummiku tercinta,” balas kak Ikhsan
                                    ***
“abiii... izin satrio mondok dong? Pas Satrio udah lulus sekolah, Satrio malu bi masa anak-anak Palestina udah pada jadi Tahfidz dibawah umur 10 tahun sedangkan Satrio satu juz aja belum bi, ya bi... izini Satrio modok, kata ummi lebih cepat lebih baik dan bukankah dulu abi pernah bilang jika ingin membagun bangunan yang kokoh itu harus punya pondasi dan jika ingin mencari ilmu carilah dari kita masih muda dan jangan pernah menyia-nyiakan hari muda untuk bersenang-senang, abi kan pernah bilang begitu masa Satrio harus nunggu tua dulu baru ngafalin Al Qur’an?” ucap Satrio
“bukannya abi melarang, tapi sesuatu itu kan harus direncanakan dengan matang dan jangan terburu-buru,” jawab abi
“bi? Tolong izinin dong, Satrio bakal buktiin deh kalau Satrio sungguh-sungguh ingin mondok kaya mamas Ikhsan” pinta Satrio
“buktiin dulu dong, buat abi percaya!” tantang abi.
“ok, ummiii.... umi jadi saksinya yah?” ucap Satrio
Untuk membuktikan kepada abi, kini Satrio lebih betah di rumah, Satrio berusaha belajar untuk menghadapi UASBN yang akan datang 100 hari lagi. Usaha itu membuat abi tersenyum senang karena kali ini Satrio benar-benar punya tekad. Satrio kini menjadi lebih mandiri, pakaian yang biasanya dicuci dan disetrika oleh ummi kini Satrio cuci dan setrika sendiri, kamar Satrio pun bersih, tidak seperti biasa yang diacuhkan kebersihannya oleh Satrio, Satrio pun kini rajin bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Sungguh sebuah tekad yang dimiliki anak berusia 12 tahun. Akhirnya ketika pengumuman nilai nem, Satrio mendpatkan nilai nem yang cukum bagus dengan rata-rata sembilan koma.
“abiii... Satrio dapat peringkat satu di kelas, nilai nem Satrio paling banyak bi, jadi... abi ngizinin Satrio buat mondok bareng kak Ikhsan kan? Abi udah janji lho, masa ayah yang baik ingkar janji, kan ngak baik, dosa lho!” ucap Satrio
“iya abi izinin, kalu mau ke pondok pesantren sekarang hayo abi anterin sekarang juga,” jawab abi.
“lusa aja bi kan sekarang mamas katanya mau kesini, jadi nanti Satrio berangkatnya bareng sama mamas,” ucap Satrio.
Senang bukan main hati Satrio sekarang, tak henti-hentinya Satrio memeluk ummi, dengan senyum yang merekah itu ummi pun turut senang, walaupun ummi harus rela ditinggal jauh oleh kedua putranya tapi rasa sedih itu ummi kubur dalam-dalam.
“ummi, doakan Satrio yah agar Satrio bisa jadi Tahfidz dan bisa ngasih ummi mahkota yang paling indah di surga kelak. Ummi jangan sedih karena putra-putra ummi jauh dari ummi, insyaallah setiap liburan Satrio bakal jenguk ummi. Satrio butuh doa dan keikhlasan ummi dan abi,” ucap Satrio ketika ingin pergi dan ummipun langsung memeluk Satrio dengan memberika tasbih kepada Satrio.
Enam  tahun telah berlalu dan enam tahun pula Satio menimba ilmu di pondok pesantren. Kini Satrio beranjak dewasa, penampilannya sudah berbeda sudah mulai punya jenggot tipis, berpenampilan ala-ala santri dan Satrio pun sudah hafal 30 juz. Cita-cita Satrio dulu kini menjadi kenyataan, seorang Tahfidz Al Qur’an yang tangguh dan tentunya tujuan awalnya menjadi seorang Tahfidz adalah ingin memberikan mahkota paling indah untuk ummi. Enam tahun dirasa Satrio waktu yang cukup untuk menimba ilmu di pondok dan kini Satrio ingin kembali kepada ummi dan mengamalkan ilmu yang dia dapat di pondok.
“assalamualaikum ummi.. abi... Satrio pulang,” ucap Satrio
“waalaikumsalam nak,” jawab ummi sambil memeluk Satrio
“ummi... atas doa yang ummi panjatkan setiap malam kini Satrio menjadi Tahfidz Al Qur’an dan Satrio bisa memberi mahkota yang paling indah buat ummi,”
“(ummi hanya tersenyum), pasti Satrio capek yah, yasudah sana mandi dulu, kalau belum sholat ashar sholat dulu, ummi nyiapain makan buat kamu dulu yah,”
“ummi ngak usah nyiapin makanan buat Satrio tadi Satrio udah makan ko, ummi istirahat aja, nanti abis mandi satrio ingin sekali cerita sama ummi,” pinta Satrio
Satrio pun bergegas ke kamarnya dan bersegera untuk membersihkan badannya. Setelah selesai mandi, Satrio mencari ummi ke setiap ruangan ternyata ummi sedang berada di ruang keluarga, langsung saja satrio menghampiri ummi,”
“ummi kok disini? Satrio nyariin ummi loh, oya mi, abi sama kak Ikhsan kemana? Ko ngak keliatan?” tanya Satrio
“biasa abimu masih dikantornya, mamasmu lagi liqo sama binaannya,” jawab ummi
“mamas jadi murabbi sekarang ya mi? Wah satrio juga mau dong mi? Hmm berarti ummi sering sendirian dong di rumah?” ucap Satrio
“iya, kini mamasmu jadi seorang murabbi, coba kamu tanyain aja sama mamasmu ada binaannya yang butuh murabbi lagi atau ngak, ummi ngak sendirian ko kan sekarang ada Satrio yang nemenin ummi. Oya, Tito selalu menanyakanmu apakah kamu sudah pulang atau belum, dia masih nanyain apakah kamu ingat akan janji dan ucapan kamu ke Tito dulu?” tanya ummi.
“oyaaaaa..., ko Satrio lupaan gini yah, Satrio inget ko, dulu Satrio bilang kalau Satrio ingin jadi murabbinya kelak,” jawab Satrio
Jika ada kemauan maka disitu ada jalan. Jika punya impian maka berusahalah untuk mewujudkan impian itu karena jika impian itu hanya angan-angan tanpa usaha untuk menggapainya itu akan sia-sia. Satrio adalah contoh dari segelintir anak negeri yang punya impian,kemauan,tujuan,dan tekad. Dari Satrio kita bisa belajar untuk jangan pernah menyerah dalam menggapai impian. Gapai terus impianmu dan genggamlah dunia ini jangan sampai dunia yang menggenggammu.
BERSAMBUNG